Merangkum 5 Tahun Perjalanan, Rio Clappy Rilis Album Perdana “Tutur Hayat” dengan Sentuhan Magis The Beatles Merangkum 5 Tahun Perjalanan, Rio Clappy Rilis Album Perdana “Tutur Hayat” dengan Sentuhan Magis The Beatles
Pada akhirnya, Tutur Hayat adalah medium Rio Clappy untuk terhubung dengan para pendengarnya. "Saya berharap lagu-lagu ini bisa menemukan tempatnya di kehidupan kalian, dengan... Merangkum 5 Tahun Perjalanan, Rio Clappy Rilis Album Perdana “Tutur Hayat” dengan Sentuhan Magis The Beatles

Merangkum 5 Tahun Perjalanan, Rio Clappy Rilis Album Perdana “Tutur Hayat” dengan Sentuhan Magis The Beatles

‎Jakarta, soundcorners.com – Penyanyi sekaligus penulis lagu Rio Clappy akhirnya merangkum perjalanan lima tahun terakhirnya ke dalam sebuah album perdana bertajuk Tutur Hayat. Melalui sesi dengar (listening session) yang digelar intim baru-baru ini, terungkap banyak cerita personal, eksplorasi musikalitas, hingga kejadian-kejadian jenaka di balik layar pembuatan album berisi 10 trek tersebut.

Rio Clappy - soundcorners

‎”Tutur Hayat adalah kumpulan cerita dan perasaan yang saya rangkum dari perjalanan hidup selama ini,” ungkap Rio tentang albumnya. Pemilihan judul ini berakar dari sebuah filosofi mendalam. Sifat dasar manusia secara turun-temurun adalah “menuturkan” atau menyampaikan cerita, sementara kata “hayat” bermakna nyawa atau hidup.

‎Lewat Tutur Hayat, Rio ingin menegaskan bahwa hidup bukan sekadar urusan jatuh cinta dan patah hati, melainkan mencakup pertemuan, perpisahan, hingga kematian. Pesan tentang garis akhir kehidupan ini dieksekusi dengan epik pada lagu kesepuluh yang didaulat sebagai trek paling sedih. Liriknya membayangkan tentang surga, sebuah pengingat lugas bahwa manusia tidak akan hidup selamanya.
‎
‎Pergantian Produser dan Formula Musikalitas
‎Proses penggarapan album ini memakan waktu yang cukup panjang, terhitung lima tahun sejak produksi lagu “Alamo” dimulai pada tahun 2021. Dalam perjalanannya, proyek ini sempat mengalami pergantian kemudi. Awalnya, proses produksi dikerjakan bersama Mas Den Chas, namun terpaksa dihentikan karena aransemen musiknya dirasa kurang sejalan.

‎Tongkat estafet kemudian diserahkan kepada Mas Vega Antares. Keputusan ini terbukti menjadi kunci penting dalam menemukan “nyawa” dari Tutur Hayat. Mas Vega Antares dipuji memiliki musikalitas yang “lebih Beatles dari Beatles” serta “lebih Dewa 19 dari Dewa 19″—bahkan disebutkan pula bahwa sosok Mas Dani sangat bertumpu pada kemampuan Mas Vega.

‎Di bawah tangan dingin Vega Antares, kepiawaian Rio dalam menjiwai instrumen gitar terekam dengan brilian. Hal ini paling terasa pada lagu “Aksi”, di mana suara distorsi gitar elektrik Rio muncul menghentak secara tiba-tiba di pertengahan lagu.
‎
‎Sindikat “Pengajian Beatles” dan Konsep Medley Abbey Road
‎Nuansa Beatlemania menjadi benang merah yang sangat kuat dalam Tutur Hayat. Hal ini tak lepas dari lingkaran pertemanan sang musisi yang bermula dari komunitas Gitaris Tangerang Selatan (yang kini berganti nama menjadi Gitaris Teman Semua). Dari komunitas tersebut, terungkap bahwa mereka memiliki semacam rutinitas “pengajian Beatles”.

Kesamaan frekuensi ini melahirkan chemistry yang solid di antara Rio, Bilal Indrajaya, dan kawan-kawan. Saking sepemikirannya, mereka tidak perlu banyak berdiskusi. Untuk urusan yang berkaitan dengan The Beatles, mereka bisa saling memahami hanya lewat tatapan mata. Meski begitu, kekompakan ketiganya ditegaskan tidak sampai membuat mereka harus membagi peran secara spesifik, seperti menentukan siapa yang harus berdandan ala John Lennon atau Yoko Ono.

‎Pengaruh The Beatles terasa kental lewat teknik kocokan gitar akustik ala John Lennon yang disematkan pada lagu “Alamo” dan “Janji Bahagia”. Lebih jauh lagi, album ini mengadaptasi gaya medley layaknya album legendaris Abbey Road, khususnya terinspirasi dari kesinambungan lagu “Golden Slumbers”, “Carry That Weight”, dan “The End”.

‎Rio dan tim ingin lagu-lagunya terasa menyambung meskipun secara penempatan trek dipisah. Konsep overture semacam ini sebenarnya juga pernah diterapkan oleh Bilal pada lagu “Merekah” yang bertransisi langsung ke lagu “Gulana” di album EP Purnama.

‎Uniknya, sempat terjadi kebingungan dan perdebatan kocak mengenai penggunaan istilah overture di balik layar, hingga seseorang harus menjelaskannya secara harfiah. Pada akhirnya, sebagai penamaan overture atau intro, mereka memilih menggunakan sebuah kata serapan dari bahasa Arab yang bermakna “permulaan”. Alasannya sangat membumi: karena mereka tinggal di Indonesia, beragama Islam, dan menolak disebut sebagai “antek asing”.
‎
‎Sisi Jenaka dan Penghormatan Terhadap Mahakarya
‎Sesi wawancara pada acara dengar album ini tidak melulu membicarakan sisi filosofis. Ada banyak cerita absurd yang mengundang tawa. Misalnya, pengakuan seseorang yang hanya disuruh melawak dan berdandan menyerupai chef murni hanya untuk kebutuhan satu kali jepretan foto. Ada pula celetukan kocak mengenai permintaan mencetak mirror clip dalam ukuran super besar agar bisa dipajang sebagai poster di ruang tamu sebuah rumah di daerah Kalimalang.

‎Di sela-sela candaan dan pengaruh British Invasion yang diusung, para musisi di balik album ini tetap menaruh hormat setinggi-tingginya pada karya musik lokal. Dalam sesi tersebut, mahakarya Badai Pasti Berlalu milik mendiang Chrisye mendapat pujian khusus dan disepakati sebagai album musik Indonesia terbaik sepanjang masa.

‎Pada akhirnya, Tutur Hayat adalah medium Rio Clappy untuk terhubung dengan para pendengarnya. “Saya berharap lagu-lagu ini bisa menemukan tempatnya di kehidupan kalian, dengan cerita dan makna yang mungkin berbeda bagi setiap orang. Terima kasih sudah bersedia mendengarkan dan menjadi bagian dari perjalanan album ini. Semoga ada satu atau beberapa lagu yang bisa menemani kalian dalam menjalani kehidupan,” pungkas Rio

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.