Biru Baru ‘Diadili’ di DCDC Pengadilan Musik, 17 Lagu dan Proses Kreatif Dibongkar Biru Baru ‘Diadili’ di DCDC Pengadilan Musik, 17 Lagu dan Proses Kreatif Dibongkar
Pada edisi ke-66, Biru Baru menunjukkan bahwa perjalanan sebuah band tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus. Dari jamming di studio, mencari nama setelah... Biru Baru ‘Diadili’ di DCDC Pengadilan Musik, 17 Lagu dan Proses Kreatif Dibongkar

Biru Baru ‘Diadili’ di DCDC Pengadilan Musik, 17 Lagu dan Proses Kreatif Dibongkar

BANDUNG, soundcorners.com –  Perjalanan kreatif Biru Baru harus melewati “meja hijau” DCDC Pengadilan Musik. Memasuki edisi ke-66, duo yang digawangi Goldan Tambayong dan Talitha Belinda Esmeralda alias Tata itu “diadili” bukan karena pelanggaran hukum, melainkan untuk membongkar perjalanan bermusik, identitas musikal, hingga cerita di balik karya-karya mereka.

DCDC Pengadilan Musik - soundcorners

Persidangan digelar pada Kamis (24/9) di Yess Coffee & Eatery, Jalan Gatot Subroto No. 112, Bandung. Goldan dan Tata menjadi “terdakwa” dalam format persidangan yang menghadirkan Budi Dalton dan Pidi Baiq sebagai Jaksa Penuntut Umum.

Keduanya mendapat pendampingan dari tim pembela yang diperkuat Rully Cikapundung dan Yoga PHB. Sementara itu, Denny Chandra bertindak sebagai hakim ketua dan Eddi Brokoli sebagai panitera. Persidangan turut disaksikan langsung para Coklat Friends yang hadir di lokasi.

Alih-alih membahas perkara pidana, “tuntutan” terhadap Biru Baru diarahkan pada satu hal: seberapa jauh Goldan dan Tata memahami perjalanan kreatif yang telah mereka bangun sejak 2018.

Perwakilan DCDC, Agus Danny Hartono, mengatakan Biru Baru menarik untuk dihadirkan karena proses kreatif mereka berkembang melalui perjalanan panjang. Eksplorasi musikal hingga pengalaman personal menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter duo tersebut.

“Biru Baru termasuk salah satu musisi di Tanah Air yang menarik perhatian karena perjalanan mereka menunjukkan bagaimana sebuah karya bisa tumbuh dari proses eksplorasi yang panjang. Goldan dan Tata tidak berhenti pada satu warna musik, tetapi terus mencari bentuk yang paling sesuai dengan cerita yang ingin mereka sampaikan. Dari proses tersebut kemudian lahir karya-karya yang semakin personal dan dekat dengan pendengarnya,” ujar Danny.

Berawal dari Cover Lagu, Berujung Menjadi Biru Baru

Di balik nama Biru Baru, terdapat cerita sederhana tentang dua teman yang sering bertemu dan bermain musik bersama. Goldan dan Tata sebenarnya telah saling mengenal sejak masa sekolah. Ketertarikan terhadap musik membuat keduanya kerap menghabiskan waktu untuk jamming, termasuk memainkan lagu-lagu musisi lain dengan gitar akustik. Studio di rumah Goldan menjadi salah satu tempat lahirnya chemistry mereka sebagai duo.

“Kami berteman dekat dan saya suka nyamper ke rumahnya Goldan. Rumahnya Goldan itu ada studio. Kami suka bikin cover berdua pakai gitar akustik. Terus dari situ chemistry kami semakin terbangun,” kata Tata.

Keduanya kemudian mendapat kesempatan tampil di sekolah Goldan. Masalah baru muncul setelah pertunjukan selesai. Pembawa acara saat itu menanyakan nama grup mereka. Persoalannya, Goldan dan Tata belum memiliki nama. Dalam perjalanan pulang, keduanya kemudian mencari nama yang dirasa sesuai. Ide “New Blue” akhirnya muncul dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Biru Baru.

“Awal tampil di sekolah Goldan. Dia alumni dan diminta tampil. Selesai acara itu, host-nya bertanya nama band-nya apa, tapi kami belum ada nama. Di jalan pulang kami mikir dan tercetus New Blue, lalu kami pilih dalam bahasa Indonesia jadinya Biru Baru,” ujar Tata.

Kenapa Harus “Biru”?

Nama tersebut kemudian menjadi salah satu perkara yang “diperiksa” Budi Dalton. Biru selama ini kerap diasosiasikan dengan suasana sendu, kesedihan, atau perasaan melankolis. Budi pun mempertanyakan alasan Goldan dan Tata memilih warna tersebut sebagai bagian dari identitas mereka.

Goldan memberikan jawaban yang sekaligus menggambarkan cara Biru Baru melihat pengalaman emosional manusia. Menurutnya, “Biru Baru” tidak dimaksudkan sebagai gambaran tentang kesedihan baru. Justru, rasa sedih dianggap sebagai bagian dari perjalanan manusia untuk memahami kebahagiaan.

“Biru Baru bukan mau menggarisbawahi atau diartikan sebagai kesedihan baru. Justru, manusia belajar menghargai rasa senang dengan merasakan kesedihan. Bahkan di dalam lagu ‘Kita Bahagia’, juga ada unsur kesedihannya,” jelas Goldan.

Ia menambahkan, pengalaman mengenai rasa sakit dan kesedihan dapat menjadi bagian dari proses manusia untuk tumbuh dan memahami kehidupan. “Kami mau bilang bahwa rasa sedih atau sakit itu bisa membuat orang lebih peduli, sekaligus mengajari manusia lebih tangguh dalam menghadapi kehidupan,” lanjutnya.

“Kalah Lagi” hingga “Senin di Stasiun” Ikut Dibedah

Jaksa Penuntut Umum tidak hanya mengulik sejarah terbentuknya Biru Baru. Sejumlah karya mereka juga menjadi bahan pertanyaan. Lagu “Kalah Lagi” dan “Senin di Stasiun” menjadi bagian dari pembahasan. Cerita di balik lagu, lirik, hingga bagaimana pengalaman personal diterjemahkan menjadi musik ikut dibongkar dalam persidangan.

Dari sana terlihat bagaimana musik bagi Goldan dan Tata bukan sekadar persoalan bunyi, melainkan juga medium untuk menerjemahkan pengalaman dan kegelisahan personal. Perjalanan musikal Biru Baru sendiri mengalami perubahan sejak pertama kali muncul.

Pada periode awal, mereka banyak dikenal melalui pendekatan ethnic art pop dengan memasukkan unsur gamelan dan instrumen tradisional. Eksplorasi tersebut kemudian berkembang menuju karakter alternative rock. Perubahan warna itu menjadi bagian dari perjalanan musikal Biru Baru. Hingga kini, mereka telah memiliki tiga album studio dan empat single non-album.

Album BIRU BARU: 17 Lagu tentang Berdamai dengan Diri

Tahun 2026 menjadi fase penting bagi Goldan dan Tata. Mereka merilis album penuh bertajuk BIRU BARU, sebuah karya yang sejak awal memang ingin mereka hadirkan dengan menggunakan nama sendiri. Album tersebut berisi 17 lagu yang dibagi menjadi dua bagian.

Secara tematik, BIRU BARU membawa pendengar masuk ke wilayah hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Kegagalan, kelelahan emosional, penyesalan, hingga upaya memahami kembali diri menjadi sejumlah tema yang muncul dalam album tersebut.

Karya ini juga membawa Biru Baru masuk dalam nominasi AMI Awards 2026 untuk kategori Duo/Grup/Kolaborasi Alternatif Terbaik. Bagi Goldan dan Tata, album tersebut menjadi salah satu penanda perjalanan mereka dalam menemukan bentuk musikal sekaligus narasi yang semakin personal.

Berani Keluar dari Zona Nyaman

Eksplorasi Biru Baru tidak berhenti pada album. Kolaborasi dengan sejumlah musisi juga menjadi ruang bagi mereka untuk mencoba pendekatan berbeda. Salah satunya adalah “Semua Telah Terjadi”, lagu yang mereka garap bersama Iga Massardi.

Kolaborasi tersebut berangkat dari keinginan Biru Baru untuk mengeksplorasi warna rock yang sebelumnya belum terlalu banyak mereka sentuh. Kehadiran Iga Massardi kemudian turut memperkuat karakter gitar dalam lagu tersebut. Eksplorasi semacam itu menjadi bagian dari cara Goldan dan Tata menjaga perjalanan musikal Biru Baru agar terus bergerak.

Putusan Akhir: Biru Baru Bebas

Setelah berbagai pertanyaan dilontarkan Jaksa Penuntut Umum, pembahasan karya dibongkar, dan perjalanan kreatif mereka diperiksa, DCDC Pengadilan Musik akhirnya sampai pada putusan.

Denny Chandra selaku hakim ketua menyatakan Biru Baru bebas dari dakwaan. “Dengan demikian Pengadilan Musik yang memeriksa dan mengadili dengan nomor perkara 1.66/DCDC/2026 dengan terdakwa Biru Baru bebas dari dakwaan. Sidang saya nyatakan selesai dan ditutup,” ujar Denny. Namun, “putusan bebas” tersebut bukan akhir dari malam Biru Baru.

Persidangan dilanjutkan dengan penampilan live Goldan dan Tata bersama para musisi pengiring. Di atas panggung, keduanya membawakan sejumlah lagu sekaligus memperlihatkan secara langsung karakter musikal Biru Baru di hadapan penonton. Sebelum meninggalkan ruang persidangan, Goldan dan Tata juga mengajak para penonton untuk menyaksikan showcase Biru Baru yang direncanakan berlangsung di Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta pada 2026.

DCDC Pengadilan Musik merupakan program yang mengkaji sekaligus mengapresiasi perjalanan dan karya musisi Indonesia melalui format persidangan. Musisi ditempatkan sebagai “terdakwa”, sementara jaksa, pembela, hakim, dan perangkat persidangan bertugas menggali cerita, proses kreatif, serta karya yang telah mereka lahirkan.

Pada edisi ke-66, Biru Baru menunjukkan bahwa perjalanan sebuah band tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus. Dari jamming di studio, mencari nama setelah tampil di sekolah, bereksperimen dengan musik tradisional, bergerak ke alternative rock, hingga melahirkan album berisi 17 lagu, seluruh proses tersebut menjadi bagian dari identitas Biru Baru hari ini.

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.